: http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/tail2.gif DUKATI_SMP_2_KARAWANG_TIMUR: Februari 2014

Rabu, 26 Februari 2014

kesehatan

Jalan kaki dan penurunan risiko patah tulang pinggul jalan kaki | patah tulang panggulPara peneliti dari Brigham and Women’s Hospital mengumpulkan data dari penelitian besar, menganalisa informasi mengenai aktivitas dan kebiasaan duduk pada hampir 36.000 pria selama 24 tahun. Penelitian ini bergantung pada jawaban kuesioner partisipan tentang seberapa banyak dan cepat mereka berjalan, serta lama waktu duduk dan aktivitas fisik mereka seperti berenang, tenis, dan lain sebagainya. Selama periode 24 tahun, diketahui terjadi 546 patah tulang pinggul, tidak termasuk patah tulang akibat kanker atau peristiwa traumatis seperti jatuh saat bermain ski atau kecelakan mobil. Delapan puluh lima persen dari patah tulang yang terjadi meliputi “Trauma Rendah” seperti tergelincir, tersandung, ataupun jatuh dari kursi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak dan keras seorang pria berjalan, semakin rendah pula risikonya untuk mengalami patah tulang pinggul saat ia berusia lanjut, ujar penulis penelitian. Untuk laki-laki yang aktivitas utamanya berjalan kaki dan melakukannya setidaknya 4 jam dalam seminggu dikaitkan dengan penurunan yang signifikan terhadap terjadinya patah tulang pinggul. Risikonya adalah 43 persen lebih rendah daripada berjalan kaki kurang dari satu jam seminggu. “Hal ini juga diketahui bahwa aktivitas fisik dapat membantu mencegah patah tulang pinggul , serta juga membantu membangun tulang dan otot . Selain itu, jalan kaki juga dapat membantu keseimbangan juga,” kata penulis studi Diane Feskanich, asisten profesor di Harvard Medical School. “Satu hal yang kita tunjukkan di sini adalah bahwa menjadi sehat tidak harus aktivitas berat , ” kata Feskanich . “Banyak penelitian telah difokuskan pada manfaat dari aktivitas berat , namun kami menemukan jalan kaki juga dapat membantu mencegah patah tulang pinggul. Selain itu, orang tua sering lebih nyaman dengan berjalan kaki.” Karena risiko patah tulang yang berbeda, orang-orang keturunan Afrika Ameria atau Asia tidak dimasukkan ke dalam penelitian ini. Penelitian ini diterbitkan online pada tanggl 13 Februari silam di American Journal of Public Health. Dr Neil Roth , seorang ahli bedah ortopedi mengatakan bahwa cara untuk menjaga tulang sehat dan kuat adalah dengan meningkatkan stres/tekanan pada tulang melalui aktivitas, namun tidak berlebihan. “Anda sedang berada di bawah ambang batas yang berbahaya namun itu juga mendorong ke titik yang membangun massa tulang,” kata Roth. Kendati demikian, perlakuan tersebut berbeda pada setiap orang. Seorang pria obesitas berusia 75 tahun tidak akan mampu melakukan aktivitas yang sama dengan orang yang memiliki berat badan normal berusia 65 tahun, Roth menjelaskan. Dia mengatakan bahwa berjalan dapat membantu masalah keseimbangan dan kardiovaskular, walaupun aktivitas tersebut tidak sepenuhnya dapat membantu mengatasi masalah kesehatan lainnya. Feskanich mengatakan dia dan peneliti lainnya telah melakukan penelitian serupa sebelumnya pada wanita dan hasilnya hampir sama dengan penelitian pada pria ini. Dia mengatakan temuannya ini bisa mendorong seseorang untuk meningkatkan frekuensi berjalan kaki agar mendapatkan manfaat kesehatan yang lebih baik khususnya pada orang tua.

kesehatan

pabila anda adalah pria yang sering mengonsumsi suplemen vitamin E dalam dosis besar, maka berhati-hatilah. Berdasarkan penelitian terbaru, para ilmuwan menemukan bahwa mengonsumsi vitamin E ataupun selenium dalam dosis tinggi tidak memberikan manfaat kesehatan yang signifikan, bahkan hal tersebut malah meningkatkan risiko kanker prostat. Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam Journal of National Cancer. Dampak pengonsumsian suplemen vitamin E dalam dosis Besar Secara alami, vitamin E dapat ditemukan pada brokoli, bayam, dan kacang-kacangan, di mana nutrisi ini bermanfaat untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sedangkan selenium adalah mineral yang bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung. Selenium sering ditemukan pada ikan dan daging. Kendati demikian, para peneliti di Fred Hutchinson Cancer Research Centre, Seattle, AS, menyatakan bahwa asupan dosis besar kedua zat itu dapat meningkatkan risiko kanker prostat hingga 17 persen. Risiko tersebut bisa meningkat hingga 91 persen apabila seorang pria telah mengasup selenium dalam dosis besar sebelum mengonsumsi suplemen itu secara rutin. Alan Kristal, pemimpin penelitian, mengatakan jika pada awalnya, studi tersebut sebenarnya diarahkan untuk mengetahui secara detil apakah tambahan ekstra vitamin E dan selenium dapat membantu mencegah kanker prostat. Namun diluar dugaan hasilnya adalah sebaliknya, peneliti justru menemukan lebih banyak kasus kanker prostat pada pria yang mengonsumsi 400 IU vitamin E setiap harinya dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi plasebo. “Ini setara dengan 363 mg perhari, yaitu 30 kali jumlah harian yang direkomendasikan,” katanya. Risiko kanker prostat diketahui meningkat sebesar 63 persen pada pria dengan kadar selenium terendah pengonsumsi tambahan vitamin E. “Banyak orang berpikir jika suplemen makanan dapat bermanfaat bagi kesehatan, atau setidaknya hal tersebut tidak berbahaya. Hal itu tidak benar,” tegasnya. Penelitian yang dimulai sejak tahun 2001 ini melibatkan sekitar 35.000 pria sehat berusia lebih dari 50 tahun. Sesuatu yang baik namun apabila dilakukan berlebihan maka hasilnya tidak akan baik. Begitu pula dengan pengonsumsian suplemen vitamin E berlebihan, maka bukan manfaat kesehatan yang didapat malah sebaliknya. Oleh sebab itu, sebelum mengonsumsi suplemen vitamin tambahan, konsultasikan terlebih dahulu pada dokter anda.

kesehatan

Mengonsumsi stroberi secara signifikan dapat menurunkan kadar kolesterol jahat dan trigliserida, sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan asal Italia dan Spanyol menunjukkan hal tersebut. Stroberi efektif dalam menurunkan kadar kolesterol jahat buah stroberiPeneliti dari Università Politecnica delle Marche (UNIVPM), Italia, bersama-sama dengan tim peneliti dari Universitas Salamanca, Granada dan Sevilla, Spanyol, memberikan tambahan menu sekitar 1 pon stroberi ke dalam menu makanan harian 23 relawan sehat selama satu bulan. Para peneliti mengambil sampel darah partisipan sebelum dan sesudah periode penelitian untuk membandingkan data. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa jumlah total kolesterol , jumlah kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat), dan jumlah kadar trigliserida, masing-masing turun menjadi 8,78 persen, 13,72 persen, dan 20,8 persen. Untuk kadar kolesterol baik (HDL), jumlahnya tidak mengalami perubahan. Makan stroberi juga meningkatkan parameter lain seperti profil lipid plasma umum, biomarker antioksidan (seperti vitamin C), pertahanan antihemolytic dan fungsi trombosit. Semua parameter kembali ke nilai-nilainya setelah 15 hari mengonsumsi stroberi setiap hari. Meskipun penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa stroberi merupakan antioksidan yang hebat, namun para peneliti mengatakan bahwa ini adalah penelitian pertama yang menemukan bahwa stroberi dapat mengatasi faktor risiko terkait penyakit kardiovaskular. Kendati para peneliti mengakui bahwa mereka tidak mengetahui secara persis senyawa apa yang memberikan efek positif tersebut, para peneliti percaya bahwa antosianinlah senyawa yang dimaksud. Antosianin adalah pigmen yang memberikan warna-warna tertentu seperti merah pada buah dan sayuran. Manfaat buah stroberi yang lain Dalam penelitian lain, tim peneliti menemukan bahwa makan stroberi juga dapat melindungi tubuh dari radiasi ultraviolet, mengurangi kerusakan pada mukosa lambung akibat minum minuman beralkohol, memperkuat eritrosit atau sel-sel darah merah, dan meningkatkan kapasitas antioksidan darah

Jumat, 21 Februari 2014

kesehatan

http://www.artikelkesehatan99.com/wp-content/uploads/2014/02/kekurangan-vitamin-c.jpg Kekurangan Vitamin C Dapat Meningkatkan Risiko Stroke Dalam sebuah penelitian kecil, para peneliti Perancis telah menemukan bahwa orang yang kekurangan vitamin C mungkin berada pada risiko yang lebih besar untuk mengalami pendarahan di otak, atau juga disebut dengan stroke hemoragik. Stroke hemoragik mempengaruhi 15 persen dari semua jenis stroke, namun biasanya stroke jenis ini lebih mematikan daripada stroke iskemik, stroke yang terjadi ketika pembuluh darah di otak tersumbat. “Studi ini menunjukkan bahwa rendahnya kadar vitamin C dalam tubuh bisa memperbesar risiko pendarahan di otak secara tiba-tiba,” kata peneliti utama tersebut, Dr Stephane Vannier dari Pontchailloun University Hospital di Rennes. Hubungan antara kekurangan vitamin c dan stroke Keterkaitan ini mungkin berhubungan dengan peran vitamin C yang dapat menurunkan tekanan darah dan menjaga kesehatan pembuluh darah, kata Vannier. Meskipun mengungkap hubungan antara kadar vitamin C dan risiko stroke hemoragik, namun studi ini tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung. Vitamin C ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran, seperti buah jeruk, pepaya, stroberi, paprika dan brokoli. Vannier mengatakan bahwa temuan ini memberikan alasan untuk menguji efektivitas dari suplemen vitamin C dalam mencegah pendarahan otak. Namun demikian, dia tidak merekomendasikan mengonsumsi suplemen vitamin C pada saat ini. Cara terbaik untuk mendapatkan vitamin C adalah melalui makanan, kata Vannier. “Kami benar-benar tidak merekomendasikan menggunakan suplemen vitamin C ketika anda tidak kekurangan nutrisi ini,” katanya. Dr Ken Uchino, seorang spesialis stroke di Klinik Cleveland di Ohio, mengatakan bahwa penelitian lain sangat dibutuhkan untuk mengkonfirmasi kemungkinan hubungan antara kadar vitamin C dan pendarahan otak. Kekurangan vitamin C juga bisa menyebabkan gusi berdarah , kata Uchino . ” Vitamin C memang memiliki hubungan dengan integritas jaringan , ” katanya . ” Orang bisa berspekulasi bahwa mungkin ada hubungannya dengan perdarahan otak.” Kekurangan vitamin C mungkin hanya mengindikasikan gaya hidup tidak sehat secara keseluruhan, dimana dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke , kata Uchino. Pada penelitian ini, tim peneliti menganalisa 65 orang yang telah menderita stroke hemoragik dan 65 orang yang sehat. Sampel darah mengungkapkan bahwa 41 persen dari total peserta memiliki kadar vitamin C yang normal, 45 persen kehabisan kadar vitamin C, dan 14 persen kekurangan vitamin C. Rata-rata, mereka yang mengalami stroke telah kehabisan kadar vitamin C, sedangkan kadar vitamin C yang normal banyak ditemukan pada peserta yang sehat. Kadar habisnya vitamin C terkait dengan rawat inap yang lebih lama, namun tidak terkait dengan risiko yang tinggi akan kematian, para peneliti menemukan. “Kadar Vitamin C secara signifikan lebih rendah pada orang yang memiliki pendarahan otak, dibandingkan dengan orang sehat, namun kami belum menghitung risiko kemungkinannya,” kata Vannier. Tekanan darah tinggi, minum alkohol dan kelebihan berat badan merupakan faktor risiko lain untuk pendarahan otak, katanya. Penelitian ini menegaskan bahwa setiap orang harus menjaga asupan gizi mereka, kata Dr Louis Morledge, seorang internis di Lenox Hill Hospital di New York City. “Menu makanan mereka sebaiknya lebih banyak pada buah-buahan dan sayuran, dan mereka harus mempertimbangkan untuk mengonsumsi multivitamin,” katanya.

kesehatan

Menatap Layar Komputer Terlalu Lama Sebabkan Masalah Penglihatan Menurut sebuah laporan terbaru dari Vision Council (Asosiasi perdagangan nirlaba), rata-rata seseorang di jaman sekarang ini menghabiskan waktu sekitar 9 jam di depan layar, baik itu layar ponsel, komputer, tablet, ataupun televisi. Hal tersebut mungkin terlihat sepele, namun kebiasaan itu dapat menyebabkan ketegangan pada mata, dan ini bisa menimbulkan permasalahan pada penglihatan. Dampak Negatif Menatap Layar Komputer Terlalu Lama Para peneliti mensurvei pada lebih dari 7000 orang dan menemukan bahwa waktu yang dihabiskan di depan layar televisi atau gadget terus meningkat, baik pada anak-anak ataupun orang dewasa. Selama kurun waktu satu tahun, jumlah orang yang mengaku menghabiskan waktu di depan layar hingga 10 jam terus meningkat sebesar 4 persen. “Sekitar 70 persen orang dewasa di Amerika Serikat telah mengalami ketegangan mata seiring dengan meningkatnya penggunaan perangkat elektronik. Orang dewasa berusia 18 hingga 34 tahun mengalami ketegangan mata pada level yang lebih tinggi (45 persen) dibandingkan mereka yang lebih tua,” ujar para peneliti. Seorang profesor bernama Douglas Lazzaro mengatakan bahwa menatap layar secara terus-menerus bisa menyebabkan sejumlah masalah, khususnya pada mata. Semakin lama seseorang melihat layar komputer atau gadget lainnya, ketegangan mata juga akan meningkat, dan hal ini bisa menyebabkan sakit kepala. “Ketika kita sedang melihat layar televisi, komputer, atau tablet, kita juga akan memiliki kecenderungan jarang berkedip. Dan apabila kita kurang berkedip, mata kita akan mengering,” ungkap Dr. Douglas. Asisten profesor Jacqueline Busingye, MD, juga mengatakan bahwa kekeringan yang terjadi pada mata tersebut bisa menyebabkan mata terasa gatal dan juga terasa seperti terbakar. Menatap layar terlalu lama juga bisa menyebabkan permasalahan pada penglihatan untuk jangka panjang. “Beberapa orang ada yang meyakini bahwa menatap layar elektronik seperti televisi dapat mempengaruhi penglihatan dan menyebabkan mata menjadi rabun jauh. Hal ini memang terdengar kontroversial, namun beberapa bukti telah menunjukkan hal tersebut bisa saja terjadi,” ungkap Dr. Jacqueline.

kesehatan

Kekurangan Zat Besi dan Terjadinya Stroke Peneliti mengamati data dari hampir 500 orang dengan penyakit keturunan langka yang menyebaabkan mereka berada dalam risiko mengalami pembesaran pembuluh darah di paru-paru. Biasanya, pembuluh darah di paru-paru tidak memungkinkan pembekuan darah (gumpalan darah) untuk memasuki arteri. Namun pada pasien-pasen tersebut, pembekuan darah yang terjadi bisa lolos dari paru-paru dan berjalan menuju otak yang pada akhirnya akan menyebabkan stroke. Mereka yang kekurangan zat besi memiliki trombosit yang lengket (sel-sel darah kecil yang memicu pembekuan darah ketika saling menempel) lebih mungkin untuk menderita stroke, ungkap para peneliti di Imperial College London di Inggris. Bahkan mereka dengan kadar zat besi cukup rendah adalah dua kali lebih mungkin untuk mengalami stroke dibandingkan mereka dengan kadar zat besi rata-rata dari kisaran normal. Hasi penelitian ini diterbitkan 19 Februari dalam jurnal PLoS One.